Gunung Agung adalah gunung tertinggi di pulau Bali dengan ketinggian 3.031 mdpl. Gunung ini terletak di kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Pura Besakih, yang merupakan salah satu Pura terpenting di Bali, terletak di lereng gunung ini.

Gunung Agung adalah gunung berapi tipe stratovolcano, gunung ini memiliki kawah yang sangat besar dan sangat dalam yang kadang-kadang mengeluarkan asap dan uap air. Dari Pura Besakih gunung ini nampak dengan kerucut runcing sempurna, tetapi sebenarnya puncak gunung ini memanjang dan berakhir pada kawah yang melingkar dan lebar.

Masyarakat Hindu Bali percaya bahwa Gunung Agung adalah tempat bersemayamnya dewa-dewa, dan juga masyarakat mempercayai bahwa di gunung ini terdapat istana dewata. Oleh karena itu, masyarakat Bali menjadikan tempat ini sebagai tempat kramat yang disucikan.

Sejarah Letusan

Gunung Agung memiliki sejarah letusan yang tercatat terbesar pada 1963. Sebelumnya, gunung itu meletus pada 1808, 1821, dan 1843. Saat letusan terjadi, gempa bumi mendahului. Sayangnya tidak ada catatan rinci mengenai letusan di masa itu.

BNPB dalam keterangan pers, Rabu 20 September 2017 menyampaikan, letusan pada 1963 memiliki 5 fase yaitu:

  1. Fase gejala (gempa terasa) tempat di bawah G. Agung
  2. Fase pembuka, letusan pembuka kemudian membentuk lava lake (danau lava)
  3. Erupsi pertama 14 km ke utara
  4. Erupsi kedua 10 km Ke arah selatan
  5. Letusan susulan yang cenderung lama.

Mengutip dari laman sejarahbali.com, pada tahun 1963, ketika gunung meletus, juru kunci Gunung Agung tak mau mengungsi, bahkan hampir semua lelaki dewasa dari beberapa desa “menyambut” lahar tumpahan Gunung Agung tersebut. Kisah ini seperti saat Mbah Marijan yang tak mau mengungsi saat Merapi meletus.

Tak banyak catatan tentang letusan Gunung Agung, hanya tercatat empat kali meletus sejak tahun 1808, itu pun data dan informasinya terbatas.

  • 1808 – Pada tahun itu Gunung Agung melontarkan abu dan batu apung dengan jumlah luar biasa.
  • 1821 – Gunung Agung meletus lagi. Letusannya disebut normal tetapi tak ada keterangan terperinci.
  • 1843 – Gunung Agung meletus lagi, didahului sejumlah gempa bumi, kemudian memuntahkan abu vulkanik, pasir, dan batu apung.
  • 1963 – Gunung Agung meletus lagi dan dan tercatat berdampak sangat merusak. Korban tercatat 1.148 orang meninggal dan 296 orang luka.

Pola dan sebaran hasil letusan sebelum tahun 1808, 1821, 1843, dan 1963 menunjukkan tipe letusan yang hampir sama, di antaranya adalah bersifat eksplosif (letusan dengan melontarkan batuan pijar, pecahan lava, hujan piroklastik dan abu), dan efusif berupa aliran awan panas, dan aliran lava.

Perinciannya, sejak 120 tahun tersebut, baru pada tahun 1963 Gunung Agung meletus kembali dan menghasilkan akibat yang sangat merusak. Berdasarkan buku yang dikarang Kusumadinata pada tahun 1979 gempa bumi sebelum letusan gunung berapi yang saat ini masih aktif tersebut terjadi pada 16-18 Februari 1963. Gempa tersebut dirasakan dan didengar oleh masyarakat yang hidup di sekitar Gunung Agung.

Letusan Gunung Agung yang diketahui sebanyak 4 kali sejak tahun 1800, diantaranya : Di tahun 1808 ; Dalam tahun ini dilontarkan abu dan batu apung dengan jumlah luar biasa. 1821 Terjadi letusan normal, selanjutnya tidak ada keterangan. Tahun 1843 Letusan didahului oleh gempa bumi. Material yang dimuntahkan yaitu abu, pasir, dan batu apung.

Selanjutnya dalam tahun 1908, 1915, dan 1917 di berbagai tempat di dasar kawah dan pematangnya tampak tembusan fumarola. 1963 Letusan dimulai tanggal 18 Pebruari 1963 dan berakhir pada tanggal 27 Januari 1964. Letusan bersifat magnatis. Korban tercatat 1.148 orang meninggal dan 296 orang luka.

Dalam letusan ini, ada dua macam awan panas di Gunung Agung, awan panas letusan dan awan panas guguran. Awan panas letusan terjadi pada waktu ada letusan besar; bagian bawah dari tiang letusan yang jenuh dengan bahan gunung api melampaui tepi kawah dan meluncur ke bawah.

Facebook Comments