Lebih dari sekadar menghibur diri atau membuat teman Anda sakit kepala, ilusi optis ternyata juga membantu mempertajam pengelihatan. Hal ini dibuktikan oleh sekelompok peneliti dari University of Glasgow dan University of York dalam jurnal Psychological Science.

Martin Lages, penulis studi dari University of Glasgow, mengatakan dalam siaran pers, kita menemukan bahwa ketajaman visual, kemampuan untuk melihat detil, bisa ditingkatkan dengan ilusi yang dikenal sebagai ‘expanding motion aftereffect’. Ketika di bawah pengaruh efek ini, partisipan bisa membaca tulisan yang biasanya terlalu kecil untuk mereka.

Dalam eksperimen yang melibatkan 74 partisipan tersebut, para peneliti menggunakan grafik logMAR, grafik yang biasa Anda lihat di ruang ahli optik, untuk menguji ketajaman visual mereka. Lalu, para partisipan ditunjukkan sebuah ilusi optis berbentuk spiral selama 30 detik sebelum melakukan tes ketajaman visual kembali.

Para peneliti menemukan bahwa partisipan yang melihat spiral tersebut berputar mengikuti arah jarum jam mengalami pertajaman visual selama beberapa saat. Mereka menjadi lebih mampu melihat tulisan yang berukuran kecil. Hal sebaliknya pun terjadi pada partisipan yang melihat putaran spiral melawan jarum jam.

“Kita cukup terkesan dengan konsistensi dari efek ini. Tidak peduli bagaimana Anda mengubahnya, berdasarkan ukuran huruf maupun letak hurufnya, peningkatan performa mata tetap terlihat,” ujar Rob Jenkins dari University of York.

Dia melanjutkan, kita juga mendeteksi sebuah korelasi dengan kemampuan awal partisipan. Semakin sulit mereka mengerjakan tugas tersebut, maka semakin terbantu hasilnya dengan ilusi.

Sayangnya, para peneliti belum mengetahui secara pasti bagaimana ilusi optis dapat membantu performa visual partisipan. Namun, mereka memiliki satu teori.

Di dalam konklusi studi tersebut, para peneliti menulis, satu penjelasan yang memungkinkan adalah expanding motion aftereffect tidak benar-benar mengubah representasi syaraf, tetapi membantu pengenalan huruf di dalam otak.

“Efek gerakan kontraksi yang terjadi setelahnya mungkin meningkatkan foveal crowding (kesulitan untuk mengenali huruf dalam kata), sementara efek gerakan meluas yang terjadi setelahnya justru mengurangi crowding di antara huruf,” tulis mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here