Walaupun usianya sudah tidak lagi muda, Kombes Pol. Dwi Setiyadi masih terlihat begitu enerjik. Semangat dan pengabdianya kepada negara dan institusi sudah tidak diragukan lagi. Perwira menengah dalam jajaran kepolisian ini mungkin tidak begitu dikenal oleh masyarakat, karena memang sosoknya jarang sekali tampil di layar televisi seperti pejabat-pejabat institusi berseragam cokelat lainya.

Pribadinya juga sangat biasa alias low profile, tapi dibalik kesederhanaan penampilanya ternyata Dwi adalah seorang yang memiliki loyalitas tinggi terhadap korpsnya.

Hal tersebut pertama kali terungkap di tahun 2015, saat itu Polri dihujani cemoohan dan komentar miring di banyak media sosial. Perhatian masyarakat Indonesia mengerucut kepada polisi karena KPK menetapkan Komjen Pol. Budi Gunawan sebagai terduga kasus korupsi.

Melihat institusi tempatnya bernaung di-bully, Dwi tidak tinggal diam. Rasa memiliki yang tinggi dalam dirinya mendorong untuk melakukan tindakan yang lebih riil. Menggandeng M. Khoirul Amin, salah seorang pemain online kawakan yang juga merupakan sahabatnya, Dwi mulai melakukan aksi tandingan di dunia media online.

Kombes Pol. Dwi Setiyadi dan M. Khoirul Amin sewaktu membahas strategi media online

Sikap yang ditunjukan Dwi bukanlah untuk menutupi kebobrokan yang ada di tubuh Polri, tapi dia berharap masyarakat bisa lebih terbuka pemikiranya. Bahwa Polri ataupun institusi manapun, tidak akan luput dari yang namanya penyelewengan. Cibir dan hujat berlebihan bukanlah sebuah tindakan yang bijaksana, belum lagi pemanfaatan situasi emosi masyarakat oleh golongan yang ingin nama Polri semakin tercoreng.

Melalui media buatan Amin, mereka berdua gencar menaikan berita-berita positif tentang Polri. Banyak fakta sejarah dan jasa Polri pada negara sejak puluhan tahun silam diangkat kembali. Karena gencarnya penyajian data pembanding oleh mereka, aksi tersebut sampai dikenal dengan sebutan “cicak vs buaya”. Ya, Kombes Pol. Dwi Setiyadi memang adalah orang pertama yang melakukan perang online untuk mempertahankan citra positif Polri.

Saat ini Dwi telah delapan bulan menjabat sebagai Irwasda Polda Sulteng, dan sebentar lagi akan meninggalkan masyarakat Sulteng. Meneruskan amanat untuk bertugas di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Kepolisian. Walaupun hanya singkat waktunya disana, Dwi dikenal begitu dekat dengan masyarakat setempat. Bahkan ada salah seorang pedagang nasi kuning di pinggiran pantai Talise yang dibantu proses kelahiran anaknya.

Penjual nasi kuning pantai Talise minta foto bareng Kombespol. Dwi Setiyadi dan isteri untuk kenang-kenangan

Karena itu Dwi dan keluarga menyempatkan diri berpamitan kepada penjual-penjual nasi kuning di sana, sambil memberikan kenang-kenangan berupa tas jinjing warna- warni. Kelihatan sekali keakraban di antara mereka, sangat tidak kentara bahwa Dwi adalah salah satu pejabat utama di jajaran Polda Sulteng.

Pribadi yang sederhana, loyalitas yang tinggi terhadap institusi, pemikiran yang terbuka dan berani, serta memiliki jiwa sosial yang tinggi. Bukankah itu semua adalah parameter seorang pemimpin idaman? Bukankah seharusnya lebih banyak lagi yang meniru tauladanya?

 

Facebook Comments