Pemerintah Indonesia melelaui Kementerian Komunikasi dan Informasi telah memblokir , terhitung mulai pukul 11.00, Jumat, 14 Juli 2017. Alasannya, web ini kerap dipakai kelompok radikal untuk menebarkan ancaman dan bahkan dijadikan sarana kelompok teroris mengembangkan jaringannya.

Menurut Nava Nuraniyah, peneliti dari Institute for the Policy Analysis of Conflict (IPAC)—organisasi yang intens meneliti ekstremisme dan terorisme—sebelum memakai Telegram, para teroris memakai WhatsApp untuk berkomunikasi. Hanya, aplikasi dari Amerika Serikat ini bisa disusupi polisi sehingga perencanaan mereka bisa disadap.

Nava pernah mencoba menyusup ke dalam grup para teroris di Telegram. Percakapannya ramai karena Telegram bisa menampung 10 ribu anggota. Ada grup besar dan grup kecil. Grup-grup besar biasanya digunakan untuk propaganda.

Jika ada pembicaraan-pembicaraan yang terkait dengan rencana teror, mereka akan membentuk grup yang lebih kecil. “Kalau pembicaraan sudah mulai vulgar, akan ada yang mengingatkan untuk melanjutkan percakapan di grup yang lebih kecil,” ujar Nava.

Di grup Telegram, kata Nava, Bachrun Naim, dedengkot teroris jaringan ISIS, biasanya mempublikasikan tanya-jawab hasil konsultasi orang-orang dengannya yang memakai jalur pribadi. “Misalnya, ada yang gagal membuat bom, lalu berdiskusi dengan Bachrun, percakapan itu ia teruskan ke grup,” ujarnya.

Tahu bahwa penggunaan Telegram populer di kalangan pengikut ISIS, polisi mencoba berkontak dengan pemilik aplikasi ini. Telegram dibuat oleh Nikholai Durov, juara pelbagai kompetisi Matematika asal Rusia pada 2013. Ia mendapat sokongan dana untuk pengembangan aplikasi ini dari saudaranya, Pavel Durov, pengusaha 32 tahun yang mendirikan VKontakte—media sosial dengan jumlah pemakai terbesar di Eropa.

Saat ini pemakai Telegram diperkirakan mencapai 100 juta pengguna aktif, sebagian besar orang Iran, dengan 350 ribu pendaftar baru setiap hari. Jumlah percakapan di Telegram mencapai 15 miliar pesan per hari pada 2016.

Kendati terdaftar di Inggris dan Amerika Serikat, Durov bersaudara tak mempublikasikan alamat kantor dan laboratorium Telegram. Bahkan di situs telegram.org tak tercantum informasi apa pun tentang para pembuatnya. “Kami sempat ke Rusia, tapi ternyata kantor mereka pindah ke Berlin, Jerman,” kata seorang perwira polisi. Disambangi ke Berlin, para polisi hanya menemui angin dingin musim salju. Keberadaan Durov bersaudara tak terlacak.

Kementerian Komunikasi dan Informatika juga tidak tahu kantor fisik Telegram. “Kami hanya pernah berkomunikasi melalui surat elektronik,” kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Semuel Abrijani Pangerapan.

Komunikasi melalui surat elektronik itu, kata Semuel, dilakukan saat kementeriannya mendapatkan laporan bahwa sebuah grup atau channel terlibat dengan kegiatan terorisme. “Beberapa kali kami minta grup itu diblok, mereka melakukannya,” tuturnya.

Grup yang diikuti Nava Nuraniyah dua kali dibekukan Telegram. Namun, ketika satu grup dibekukan, para teroris itu membuat grup yang lain. Mereka pun meneruskan percakapan di sana. Menurut Nava, kemudahan membentuk grup di Telegram membuat pembekuan tak menghentikan percakapan para teroris, seperti pembekuan situs-situs radikal.

Kementerian Komunikasi pernah memblokir 22 situs yang dianggap menyebarkan paham radikal yang berbahaya, salah satunya Arrahmah.com. Namun saat ini situs itu ternyata beroperasi lagi. Bahkan, di versi telepon selulernya, ada banner yang mengajak bergabung dengan channel mereka. Ketika diklik, kita akan langsung tergabung di saluran itu. “Kami akan cek lagi,” kata Semuel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here