Tempe merupakan salah satu makanan Indonesia yang mendunia selain nasi goreng dan rendang. Namun tahukah kamu asal mula makanan tempe ini? Berikut sejarahnya, seperti dilansir dari Historiacoid, Selasa (4/8/2015).

Tempe adalah makanan yang berbahan dasar kedelai. Menurut pakar tempe dari Universitas Gajah Mada, Mary Astuti dalam “Bunga Rampai Tempe Indonesia”, kata kedelai yang ditulis kadele dalam bahasa Jawa ditemukan dalam “Serat Sri Tanjung” (abad ke-12 atau 13). Selain dalam serat legenda kota Banyuwangi itu, kata kedelai juga dijumpai dalam “Serat Centhini”, yang ditulis oleh juru tulis keraton Surakarta, R Ng Ronggo Sutrasno pada 1814.

Berdasarkan penelitian genetik, kedelai berasal dari Tiongkok, meski tidak ada keterangan apakah jenisnya kedelai hitam atau kuning. Menurut sejarawan Ong Hok Ham dalam â??Tempe Sumbangan Jawa untuk Dunia? dalam harian Kompas, 1 Januari 2000, kacang kedelai sudah sejak 5 ribu tahun lalu dikenal di Tiongkok.

Urutan proses dari kedelai hingga jadi tempe (Cherrypa.wordpress.com)
Urutan proses dari kedelai hingga jadi tempe (Cherrypa.wordpress.com)

Namun, Mary Astuti mempertanyakan hal tersebut. Jika benar kedelai berasal dari Tiongkok, mengapa kedelai tidak pernah disebutkan dalam jenis-jenis komoditas yang diperdagangkan di Jawa. Musafir Tiongkok, Ma Huan yang mengunjungi Majapahit sekira abad ke-13, mencatat bahwa di Majapahit terdapat koro podang berwarna kuning, tanpa menjelaskan kegunaan kacang tersebut. Dia tidak membandikan kacang itu dengan kacang yang ada di negerinya, seperti halnya membandingkan suhu udara di Majapahit dengan di Tiongkok. Ini menunjukkan, kacang yang ditemui Ma Huan belum ada di negerinya.

“Diduga bahwa kedelai hitam sudah ditanam di Jawa sebelum China datang ke Tanah Jawa?”, tulis Astuti. Menurut anggapan orang Jawa zaman dulu kata dele berarti hitam. Ada kemungkinan kedelai hitam sudah ada di tanah Jawa sebelum orang Hindu datang dan kemungkinan dibawa orang Tamil.

Ditilik dari muasal katanya, menurut Astuti, tempe bukan berasal dari bahasa Tiongkok, tapi bahasa Jawa kuno, yakni tumpi, makanan berwarna putih yang dibuat dari tepung sagu. Istilah tersebut cocok menggambarkan tempe yang memang berwarna putih.

Penemuan tempe berhubungan erat dengan produksi tahu di Jawa, karena keduanya dibuat dari kacang kedelai. Tahu sendiri dibawa oleh orang Tiongkok ke Jawa, yang mungkin sudah ada sejak abad ke-l7. “Bukan hanya bahannya yang sama, akan tetapi mungkin juga secara langsung penemuan tempe berkaitan dengan produksi tahu”, tulis Ong.

“Tempe muncul dari kedelai buangan pabrik tahu yang kemudian dihinggapi kapang. Kemudian jadi tempe kedelai”, kata wartawan spesialis sejarah pangan, Andreas Maryoto. “Ini saya kaitkan karena tempe yang lain berasal dari limbah: tempe gembus dari limbah kacang, tempe bongkrek dari limbah kelapa. Bila kemudian tempe kedelai dari kedelai bukan limbah, mungkin itu upgrade saja”, sambungnya.

Proses pembuatan tempe (hdimagegallery)
Proses pembuatan tempe (hdimagegallery)

Lalu bagaimana ceritanya tempe menjadi makanan orang Indonesia? Menurut Ong, kepadatan penduduk sejak berabad-abad telah mempengaruhi seni masak Tiongkok, dan hal itu juga terjadi di Jawa. Meluasnya perkebunan kolonial membuat wilayah hutan menciut dan membuat para petani sebagai kulinya, mengurangi berburu, beternak maupun memancing. Dampaknya, menu makanan orang Jawa menjadi menu tanpa daging.

“Bisa dikatakan penemuan tempe adalah sumbangan Jawa pada seni masak dunia. Sayangnya, seperti halnya banyak penemuan makanan sebelum zaman paten, maka penemu tempe pun anonim”, lanjutnya.

Ong juga menyebut tempe adalah makanan rakyat. Dalam “Encyclopaedia van Nederlandsch Indie” (1922), tempe disebut sebagai kue yang terbuat dari kacang kedelai melalui proses peragian dan merupakan makanan kerakyatan (volk’s voedsel).

Maryoto juga menambahkan kalau makanan kerakyatan itu adalah makanan yang diciptakan oleh rakyat, bukan istana. “Karena itu, muncul istilah bangsa tempe, sebagai bentuk stigmatisasi dari kalangan priyayi'”, ujar Maryoto. “Sekarang tempe tidak lagi sebagai makanan rakyat”, Maryoto menambahkan. “Pamor tempe semakin terangkat ketika gairah kuliner meningkat, sehingga tempe manjadi makanan kita semua”

Facebook Comments