Jembatan Merah merupakan salah satu monumen sejarah di Surabaya, Jawa Timur yang dibiarkan seperti adanya: sebagai jembatan. Jembatan merah semasa zaman VOC merupakan bagian vital yang melewati Kalimas menuju Gedung Keresidenan Surabaya atau Internationale Crediet en Verening Rotterdam dan lebih dikenal dengan sebutan Gedung Internatio. Hingga 1905, kantor Keresidenan Surabaya menjadi pusat pemerintahan Surabaya.

Awalnya jembatan Merah yang dibangun beratus-ratus tahun yang lalu, merupakan jembatan kayu dan dibuat atas kesepakatan Pakubowono II dari Mataram dengan VOC tahun 11 November 1743. Dalam perjanjian disebutkan bahwa beberapa daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan ke VOC, termasuk Surabaya yang berada di bawah kolonialisme Belanda. Dikawasan ini Pembangunan terus berkembang, kawasan itu dulu disebut Willem Plein. Kawasan itu ramai sebelum pelabuhan Tanjung Perak selesai dibangun pada 1910, sehingga banyak kapal-kapal layar bersandar di sekitar jembatan merah pada waktu itu.

Di sebelah barat Jembatan Merah, atau Jalan Jembatan Merah (dulu disebut Willenstraat) dan Jalan Rajawali (Heerenstraat), dipenuhi pedagang besar Eropa. Maskapai dan bank-bank kebanyakan berada di wilayah ini, bahkan sebagian besar gedung masih digunakan aneka perusahaan dan keasliannya relatif terjaga. Sementara kawasan timur jembatan diperuntukkan bagi warga Asia, seperti Tionghoa, Arab, dan Melayu. Kala itu kawasan Jembatan adalah kawasan elit yang menjanjikan banyak keuntungan bagi para pengusaha asing khususnya tionghoa. Tak heran jika gedung keresidenan Surabaya saat itu dibangun tepat di ujung barat jembatan, agar pemerintah bisa langsung mengawasi kebersihan, keamanan dan ketertiban di sekitarnya. Dukut Imam Widodo (Penulis buku Soerabaia Tempo Doeloe) mencatat masyarakat China merupakan golongan sangat penting di Surabaya.

Semula mereka mendiami Chinese Kamps atau Kampung Cina, di sebelah timur Kali Mas. Jalan-jalan yang didiami warga Tionghoa itu antara lain Chinesevorstraat atau kini Jalan Karet, dan Hendelstraat atau lebih dikenal sebagai Jalan Kembang Jepun atau kawasan Kembang Jepun. Hingga pada revolusi perjuangan RI, jembatan merah menjadi saksi bisu kematian para pejuang maupun Belanda. Di tempat ini juga Brigadir A.W.S Mallaby, pemimpin angkatan bersenjata Inggris yang telah menguasai Gedung Internationale Crediet en Verening Rotterdam atau Internatio tewas terbunuh di tangan arek-arek Suroboyo. Jembatan Merah ini pun menjadi saksi bisu betapa gigih dan beraninya arek-arek Suroboyo dalam perang 10 November 1945 di Surabaya melawan tentara Sekutu dan NICA-Belanda yang hendak menguasai kembali Surabaya. Sehingga penamaan Jembatan merah menjadi bukti bahwa berbagai pertempuran para pejuang dengan bekas bercak darah adalah bukti betapa para arek Surabaya tidak rela tanah air mereka dijajah.

Dalam perkembangannya, Jembatan Merah ini mulai berubah secara fisik sekitar tahun 1890-an, ketika pagar pembatas diubah dari kayu menjadi besi. Saat ini, kondisi jembatan yang menghubungkan jalan Rajawali dan Kembang Jepun di sisi utara Surabaya ini hampir sama seperti jembatan lainnya, dengan warna merah tertentu. Hal ini bertujuan agar kesan akan perjuangan terus terjaga serta sebagai penanda sejarah bagi generasi penerus. Saat ini gedung-gedung peninggalan belanda banyak yang berubah fungsi, seperti bank, butik atau pertokoan.

Facebook Comments